Pemimpin yang baik tidak akan membiarkan rakyatnya berkembang secara
liberal, bebas dan tak terkendali. Ia punya tanggungjawab moral untuk
mengarahkan rakyatnya kepada jalan hidup yang lebih baik dan benar.
Selama ia tak sanggup untuk introspeksi-diri, tak jujur dan bersikap
mendua, maka akhirnya ia pun harus berjiwa besar mengikhlaskan dirinya
untuk tidak dihargai dan dihormati rakyatnya.
Dengan demikian ia tak punya "energi" untuk memerintah atau menjalankan sistem presidentil,hingga ujung-ujungnya hanya membiarkan saja sistem demokrasi liberal
berjalan, sampai pada titik menyerah atau turun dari jabatannya. Di
sini kita tidak membahas soal NKRI, Federal atau Ortonomi, tetapi
sistem pemerintahan yang berjalan dari zaman ke zaman, yang terumuskan
dalam istilah "khilafah", "demokrasi terpimpin" atau "apa saja", bahwa
selama pemimpin itu tak punya kemauan-keras untuk merubah dirinya untuk
bisa merubah rakyatnya, niscaya ia akan sampai pada titik kediktatoran
atau ketidaksabaran menghadapi keadaan rakyatnya yang berragam etnik
budaya dan peradaban, sampai ia pun keliru dalam menentukan
"korban-korbannya". Dengan demikian, selama ia tetap bersikeras
mempertahankan kekuasaannya, keangkuhannya, maka ia pun akan menghadapi
pengulangan dan pengulangan yang sama, hingga ia termasuk dalam
kategori "munafik" yang disinyalir dalam Al-Quran.
Banten Tourism :: Pariwisata Banten ::
Rabu, 26 November 2008
Solusinya terletak pada kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar