Banten Tourism :: Pariwisata Banten ::

Tampilkan postingan dengan label Figur Joesoef Isak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Figur Joesoef Isak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Desember 2008

Benar, Salah dan Keliru

Oleh: Hafis Azhari
(disunting dari buku 100 Tahun Bung Karno, Penerbit: Hasta Mitra)


Suara azan bergema: "Allahu Akbar!"
Namun kerumunan itu masih saja melempar rumah sambil berteriak,
"Allahu Akbar!"
Dua orang berseragam terus memberi komando.
Aku sendiri bingung harus berbuat apa, bicara apa,
Cuma dua kata yang kemudian keluar dari mulutku:
"Allahu Akbar..."
Rumah itu lantas dibakar habis hingga api berkobar-kobar
Suaranya bermeratak bersatu-padu
Dengan sayup-sayup suara azan di kejauhan sana
Juga teriakan 'Allahu Akbar' bersatu-padu
dengan panggilan untuk mengingat Tuhan Sang Pengasih,
Tak lama kemudian, sesosok tubuh berpakaian kumal tercabik-cabik serta
kulit-kulit terkelupas.
Muncul dari rumah yang sudah hangus berantakan,
Pada kerumunan itu ia mentap tajam penuh makna
Ia tak berkata-kata hingga jatuh tergeletak
Hanya "Allahu Akbar" itu saja yang aku dengar sebelum ajalnya,
Tetapi masih saja aku bingung harus berbuat apa
Dan siapa pula yang bisa memastikan:
"Allahu Akbar" mana yang benar
"Allahu Akbar" mana yang salah
dan "Allahu Akbar" mana yang keliru? Read More......

Sabtu, 13 Desember 2008

Mengorbankan rakyat adalah "energi" bagi penerus Orde Baru

Oleh Hafis Azhari*

Bila kita mencermati jejak-langkah Bung Karno, serta gagasan pemikirannya tentang "demokrasi terpimpin", maka kita dapat menangkap adanya konsep politik universal yang melampaui sejarah politik Indonesia, bahkan melampaui pemikiran-pemikiran cerdas dari kalangan intelektual manapun.

Sepak-terjang pemikiran revolusioner dari Bung Karno, menelusuri proses penemuan jati-diri manusia, seperti halnya ia sering memberi amanat bahwa hakekat manusia Indonesia adalah "pemimpin" atau "khalifah" di muka bumi, yang harus bertanggungjawab kepada apa-apa yang dipimpinnya. Dan pemimpin yang sifat hakekatnya putih akan beranak putih; pemimpin yang sifat hakekatnya abu-abu akan beranak abu-abu; bergitupun pemimpin yang sifat hakekatnya hitam akan beranak hitam. Karenanya setiap pemimpin harus betul-betul sadar bahwa ia adalah "pencipta" yang memberi induksi kepada kesadaran dan peradaban rakyatnya, sedangkan pihak yang dipimpin hanyalah "peniru" yang meneladani jejak-langkah sang pemimpinnya.

Angkatan muda Indonesia harus pintar menyerap gagasan-gagasan Bung Karno terutama tentang konsep kepemimpinan dunia yang diungkap di berbagai kesempatan, yakni suatu konsep yang nampak berbeda dengan corak kepemimpinan demokratis yang selama ini digembar-gemborkan, yang mestinya berfungsi selaku pendidik yang menanamkan kebaikan, namun yang berjalan justru memanfaatkan kebodohan dan ketidaksadaran rakyatnya agar leluasa melenggang melestarikan kekuasaannya. Bagi politik kekuasaan semacam ini, tak mungkin ditemukan solusi apapun bagi kesejahteraan rakyat, namun justru merasa dirugikan apabila rakyatnya jadi cerdas dan melek politik, melek budaya dan ekonomi, yang dinilainya sebagai ancaman yang mengusik kursi kekuasaan yang dianggap keramat dan abadi itu.

Konsep dasar politik kekuasaan yang masih berlaku di negeri ini sangat bertolak-belakang dengan konsep yang digagas para founding fathers yang dengan tulus berjuang memberdayakan potensi-potensi manusia Indonesia, tanpa pandang bulu. Bung Karno tak bosan-bosan mengingatkan agar rakyat Indonesia jangan kejangkitan denkfout, kephobian atau kepanikan pada perbedaan-perbedaan golongan, suku-bangsa, agama dan aliran kepercayaan apapun. Sedangkan yang diperjuangkan para politisi dan penguasa (yang mewarisi Orde Baru) justru melestarikan kephobian dan ketakutan massa, bahkan menganggap dirinya akan tetap jaya dengan mengumbar seribu teror dan ketakutan kepada segenap rakyatnya. Loyalitas yang dibangun bukanlah atas dasar ketulusan tanpa pamrih untuk mendewasakan rakyat, namun hanya berdasarkan ketaatan yang berat-sebelah serta dipaksakan kepada pihak yang dianggap bawahannya.

Itulah yang menyebabkan masyarakat dunia selalu terbelenggu dan terbodohi oleh obsesi dan ambisi para penguasa yang sibuk menyangkal dan mendramatisir masalah, tanpa sungguh-sungguh mau belajar untuk memahami kekeliruan dan kekurangan dirinya, hingga setiap kritik dan pesan yang disampaikan, selalu dihadapi dengan prasangka-prasangka buruk yang mengundang anarki dan represif dengan mengatasnamakan stabilitas negara. Padahal tugas yang hakiki dari seorang pemimpin adalah membangkitkan dan memberdayakan potensi-potensi seluruh rakyatnya, lantas bagaimana fungsi kepemimpinan itu ketika memandang rakyat sebagai ancaman yang mencurigakan, dan bukan sebagai anak-didik yang harus dirangkul dan diperlakukan secara baik dan adil?

Dalam kaitan ini seorang budayawan Y.B. Mangunwijaya pernah menyatakan bahwa konsep kekuasaan tak pernah mengenal istilah "ketulusan" dan "keikhlasan". Dan selama bangsa kita tidak berpijak pada jejak-langkah founding fathers maka sulit untuk menyadari siapa yang harus berkorban bagi siapa? Apakah layak seorang pemimpin menuntut hak-haknya atas rakyat, selama ia belum memenuhi kewajibannya sebagai pemimpin jujur yang layak diteladani oleh rakyatnya? Apakah seorang pemimpin sanggup berkorban dengan mangatakan "cukup", lantas rela mendistribusikan amal dan energinya demi kemaslahatan rakyat-banyak?

Hal-hal seperti inilah yang menjadi perhatian serius bagi pemikiran Bung Karno, suatu impian dan cita-cita luhur bagi sorga Indonesia yang dihuni oleh penduduk-penduduk berbakat dan berkualitas yang berjuang saling mencerdaskan dan mendewasakan, ketimbang mengumbar fitnah dan propaganda kosong, tanpa disertai tiang dan pondasi yang kelak meruntuhkan dirinya sendiri.

Karena itu sedikit bicara baik dan benar, akan sangat bermanfaat daripada sejuta omongan yang tak jelas ujung-pangkalnya. Begitupun dalam memahami konteks Gearakan 30 September 1965, Bung Karno sejak pagi-dini tak mau terjebak di wilayah prasangka dan hypothesis belaka, namun tekun menelusuri sinthesis untuk menemukan benang-benang merah dari substansi persoalan yang sesungguhnya.

Demikianlah Bung Karno bapak bangsa kita. Ia mendambakan kemandirian rakyat yang lebih memahami kualitas daripada kuantitas, memahami hal-hal prinsipil yang harus menjadi prioritas, daripada menghabiskan waktu dan energi untuk mengurusi soal-soal remeh dan sepele semata. Sedangkan pemimpin yang terus-menerus bersemangat membodohi dan mengelabui rakyatnya, sebetulnya tak lebih dari seorang pecundang yang akan mengusik kebebesan berpikir, serta merecoki pemekaran kedewasaan rakyatnya sendiri.

Karenanya ia pun pernah berpendapat bahwa asas kekuasaan dunia yang selama berabad-abad mempunyai prinsip "menang-kalah", kini harus dirubah pada prinsip-prinsip yang berasas pada soal baik atau jahat, benar atau salah atau keliru.

Dengan demikian akan mudah ditemukan garis pemisah dalam sejarah republik kita: siapakah pahlawan yang menanamkan benih-benih kebaikan dan keindahan, atau siapakah pecundang yang mewariskan ketakutan, kebencian dan kerusakan di mana-mana?

Dalam buku "100 Tahun Bung Karno (Sebuah Liber Amicorum)" Joesoef Isak telah menorehkan garis besar bahwa pergelutan keindonesiaan kita akan terus-menerus mengalami problem kemanusiaan yang universal, yakni tarik-menarik antara kepentingan demokrasi liberal ataukah bentuk demokrasi yang terarah dan terpimpin? Karena itu sosok kepemimpinan Bung Karno (dengan segala kekurangannya) tetaplah menjadi prioritas cermin dan teladan yang mengungguli semua tokoh Indonesia manapun.

"Bung Karno adalah intelektual dan pejuang revolusioner yang berani mengorbankan kepentingan pribadinya demi keselamatan bangsanya," demikian tandasnya.

Hingga kita pun teringat pada pernyataan sahabat dekatnya Pramoedya Ananta Toer, yang suatu kali menegaskan pada saya (sebelum wafatnya): "Tidak ada alasan bagi siapapun untuk menilai Bung Karno sebagai diktator. Tapi justru dialah politikus dan negarawan satu-satunya dalam sejarah politik modern yang berhasil menyatukan negeri dan nasionnya tanpa meneteskan darah!" Kemudian Joesoef lebih melengkapi dan membandingkannya dengan Soeharto dan Orde Barunya yang tega membantai dan menjebloskan ke penjara jutaan warganegaranya sendiri, hingga Indonesia merasa kehilangan manusia-manusia berbakat dan berpotensi bagi pondasi-pondasi pembangunan bangsa yang bermoral dan beradab, yang akibatnya telah kita rasakan bersama.

Mari kita menghargai dan menghormati bapak-bapak bangsa yang berhak mendapat kehormatan, yang telah mengilhami kebenaran sebagai kebenaran, dan telah membuka pintu-pintu gerbang bagi fajar pencerahan Indonesia di masa yang akan datang.

Bung Karno telah memberi teladan bagi kita semua bahwa persoalan "kebaikan" bukanlah monopoli bagi orang kapitalis atau komunis, kanan-kiri, Kristen-Islam, Jawa-Sunda atau militer-sipil, tapi merupakan hak bagi sang penanam kebaikan yang pasti akan terkenang dalam sejarah (dengan sendirinya). Karena toh pada akhirnya seorang manusia tak mungkin menyiasati dirinya sendiri agar tercatat dalam sejarah....

Banten, 13 Desember 2008
*Ketua Kelompok Kerja Perumusan Sejarah Indonesia (K2PSI)
Read More......

Sabtu, 15 November 2008

Pemikiran Joesoef Isak

Mengkonfrontasikan Pemikiran tentang Bung Karno

Oleh : Hafis Azhari

Tokoh Bung Karno adalah puncak segala-galanya bagi Indonesia, dari persoalan keindonesiaan sampai gambaran budaya dan peradaban manusia Indonesia. Jadi tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa figure Soekarno – meski bukan satu-satunya – adalah tokoh sentral untuk memahami dan mendalami sejarah Indonesia. Bahkan tidaklah keliru bila dikatakan bahwa sejarah hidup Bung Karno adalah patokan untuk mengukur tingkat budaya dan peradaban Indonesia, di mana moralitas dan pertanggungjawaban manusia pertaruhkan.

Dalam perjalanan karirnya sebagai wartawan Joeoef Isak mengaku banyak mengalami tahapan di mana ia merasa pernah jatuh-bangun dalam menilai dan memahami Bung Karno.
"Hal ini cukup wajar, karena hidup seorang individu adalah suatu proses berkelanjutan yang tak pernah berhenti. Sebagai anak muda boleh dibilang saya pernah mengalami periode "meraba-raba", terutama dalam upaya membanding-banding hingga memahami apa dan siapa itu Bung Karno".

Sewaktu bergabung dengan PSI (Partai Sosialis Indonesia) Joesoef pernah meninggalkan Bung Karno, terutama ketika mengalami masa-masa "peruncingan" dalam perpolitikan Indonesia. Kebijakan-kebijakan Bung Karno dinilainya sebagai banyak melakukan tindakan-tindakan politik yang berani dan gegabah, hingga – dalam usia muda sepantarannya – membutuhkan jeda waktu untuk meraba-raba dan menilai secara utuh dan menyeluruh.
Barulah setelah pembertonkan PRRI/ Permesta serta kepiawaian Bung Karno dalam mengatasi pemberontakan tersebut Joesoef kembali memihak Bung Karno secara bulat bersama dengan segala kebijakan-kebijakan politiknya.
Sebagai orang PSI Joesoef mengaku telah banyak belajar dari Soebadio Sastrosatomo (di samping Bung Karno), terutama tentang keteguhan dan kegigihannya dalam mengidealisasi kesatuan Indonesia. Soebadio cukup banyak mengilhaminya dalam proses pencarian jatidiri sebagai individu, yang merupakan bagian integral dari kesatuan suatu nasion.
Sebagai seorang pengagum Syahrir, Soebadio pernah menandaskan bahwa dirinya adalah bagian dari perjuangan bapak bangsa Soekarno. "Soekarno adalah presidenku. Soekarno adalah Indonesia, Indonesia adalah Soekarno." Waktu Jenderal Soeharto masih dalam kuasa-kuasanya, kepada Joesoef dan kawan-kawan ia memperingatkan supaya menghentikan setiap pelecehan yang dialamatkan kepada Soekarno, juga kepada Hatta-Syahrir, untuk kemudian membangkitkan strategi persetuan Soekarno-Hatta-Syahrir dalam melawan fasisme Soeharto.
Ketika Soebadio menyatakan kekagumannya pada Bung Karno, tidak setitik pun pada dirinya untuk bermaksud mengecilkan apalagi meninggalkan Hatta-Syahrir.
Maka apapun yang kita bicarakan mengenai kebesaran para perintis pendiri Republik Indonesia, Bung Karno-lah tokoh sentral dari segala-galanya. Bahkan menurut Joesoef Isak:
Tidaklah berlebihan untuk dikatakan bahwa kehidupan Bung Karno sekaligus merupakan patokan untuk mengukur moralitas kita sebagai bangsa.
Hal itulah yang dirasakan dan dialami Joesoef hingga segala polemic yang pernah dialaminya bahkan yang "menjebaknya" sebagai tahanan politik Order Baru, tak lain merupakan suatu pendapat dan konfrontasi mengenai figur Bung Karno itu sendiri.
Setiap polemik di awal tahun 1960-an, yang membuatnya tergeser secara berturut-turut dari Pemred Merdeka, kemudian berkelanjutan adanya kasak-kusuk untuk menggulingkan dirinya dari Sekjen PWAA serta keanggotaannya di PWI, adalah bagian dari sikap dan pendiriannya dalam mengkonfrontasikan bahkan mengidolakan bapak bangsa kita.
Waktu itu cukup sengit tarik-menarik antara siapa memihak siapa. Siapa pendukung siapa. Dan sebagai pribadi yang konsekuen memihak Bung Karno setelah peristiwa PRRI/Permesta, pada mulanya saya tidak sempat mengamati adanya klik dan konspirasi yang dialamatkan kepada diri saya.
Berkaitan dengan ini Joeseof Isak memaparkan adanya berita yang disampaikan Hiswara Dharmaputera, terutama tentang suatu pertemuan di Makassar yang memfokuskan dirinya sebagai "sasaran tembak", mengingat dirinya bukanlah sembarang orang dalam dunia pers dan jurnalistik Indonesia, bahkan bagi Asia-Afrika.
Karena menilai diri saya sebagai orang penting, rupanya mereka harus merancang berbagai strategi untuk "secara halus" menggulingkan kedudukan saya. Sementara saya tetap bekerja untuk membantu pemerintah, terutama ikut serta menyokong dalam proses revolusi yang diamanatkan Bung Karno. Saya tidak punya konspirasi apa-apa untuk tujuan-tujuan yang tidak baik dan tidak benar.
Dan segala pertimbangan yang difokuskan untuk mempersalahkan Joesoef, rupanya berkelanjutan hingga tahun-tahun setelah peristiwa G30S. Rezim Soeharto dan Angkatan Darat tidaklah mempersoalkan apakah sasaran penangkapannya adalah seorang anggota PKI, PNI, Masyumi, NU ataukah PSI.
Hingga sampailah pada keputusan bahwa mulai tahun 1968 Joesoef Isak dinyatakan "sah konstitusional" sebagai tahanan politik Orde Baru, dikarenakan satu hal: ia adalah pendukung dan pembela Bung Karno.
Read More......

Rabu, 01 Oktober 2008

PENGGERAK YANG TIDAK BERGERAK

-Figur Joesoef Isak-

Muhammad Thorik
(Aktivis K2PSI)

Angkatan muda Indonesia lebih banyak mengenalnya sebagai editor karya-karya Pramoedya Ananta Toer, padahal di jaman pemerintahan Soekarno ia pernah malang-melintang di dunia jurnalistik, bahkan pernah menjabat Pemimpin Redaksi Merdeka, Ketua PWI Jakarta, hingga Sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika (PWAA). Dalam biografi yang ditulis oleh Hafis Azhari (yang tersebar lewat media internet), kita mengenal kata-kata seorang kawan jurnalisnya, selepas dari tahanan Salemba: "Joesoef, mestinya kau paham siapa kau ini? Begitu banyak elite penguasa di sekitar Soeharto yang memperbincangkan kau, dan segala kampanye anti-komunis itu baru dimulai dengan syarat bahwa kau harus keluar dari suratkabar Merdeka!"


Awal karirnya di dunia jurnalistik bersamaan dengan maraknya gegap-gempita dari pidato-pidato Bung Karno lewat corong-corong radio. Saat itu, meski usia Joesoef baru belasan tahun, semangat juang untuk membela kemerdekaan RI terasa makin kuat dalam dirinya. Pada periode tertentu ia pernah meninggalkan garis politiknya Bung Karno serta menganggapnya sebagai tukang agitasi dan "tukang koar-koar", namun kemudian ia mengalami pencerahan untuk lebih mengenal Bung Karno, bahwa sosok bapak-bangsa itu tak bisa dipahami searah atau dinilai secara sepotong-sepotong. "Bung Karno adalah figur pemimpin yang harus dicermati secara utuh, dalam keseluruhan dirinya, seperti layaknya kita menyaksikan sebuah film menarik, dan bukan seperti melihat gambar foto yang mandek dan mati," begitulah tandas Joesoef.
Di usianya yang ke-18 Joesoef sudah terjun ke dunia kewartawanan. Ia bekerja di suratkabar pertama Indonesia, yang bernama Berita Indonesia. Inilah suratkabar pertama yang lahir sebelum kemerdekaan RI, sedangkan Merdeka baru lahir pada Oktober 1945. Ditegaskannya bahwa Berita Indonesia sudah bergerilya sejak masa-masa pendudukan Jepang, untuk mengcounter Gunsaikanbu, sebagai suratkabar yang memihak pendudukan Jepang di Indonesia.
Sejak masa pendudukan Jepang Berita Indonesia sudah berkali-kali mengalami pembredelan, namun kemudian ia bangkit lagi hingga mengalami pembredelan yang ke sekian kalinya di masa agresi militer Belanda pertama dan kedua. Pekerjaan yang digeluti Joesoef lebih difokuskan pada koleksi-koleksi dari koran Belanda, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu ia pun menulis reportase-reportase politik untuk suratkabar-suratkabar dadakan yang banyak didirikan oleh para milisi Belanda yang mengadakan wajib militer. "Dan rupanya tidak sedikit dari mereka yang terang-terangan membela kemerdekaan republik kita," tegas Joesoef.
Sebagai jurnalis muda yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Bung Karno, Joesoef banyak menulis reportase yang bermuatan pendidikan politik, sebagai penyadaran bagi segenap rakyat agar menyadari keberadaan dirinya sebagai bangsa terjajah di muka bumi ini.
"Karena itu, pembredelan oleh pihak Jepang, dan kemudian Belanda, adalah tindakan konstitusional dalam pandangan mereka sendiri. Itu sah-sah saja, seperti juga Orde Baru yang gemar menafsir pasal-pasal hukum seenaknya sendiri. Tetapi bagi kita jelas, bahwa hal itu adalah tindakan yang tidak adil dan sewenang-wenang, dan harus diadakan perlawanan…."
Joesoef menyatakan bahwa pada jamannya, ia tidak hanya berkutat di wilayah profesionalisme jurnalistik. Meskipun ia menghargai kepeloporan Rosihan Anwar maupun Mochtar Lubis, namun ia menorehkan garis pemisah bahwa profesionalisme dan perjuangan berpolitik adalah dua persoalan yang berbeda.
Sewaktu terjadi "konflik" dengan B.M. Diah, Joesoef mengakui bahwa persoalan itu tak terlepas dari pihak-pihak tertentu untuk membesar-besarkannya secara tidak proporsional. "Banyak orang mengira bahwa polemik antara saya dengan Diah, lantas dijadikan alat untuk menyebarkan isu tentang pecahnya dunia jurnalistik di Indonesia. Padahal semua itu tak terlepas dari persoalan politik yang mengemuka pada jaman itu, yang bermuara pada grand scenario perang dingin yang dikobarkan Amerika dan negeri-negeri imperialis lainnya."
Joesoef lebih menandaskan lagi bahwa: apabila kita mengkaji konflik-konflik yang terjadi di jaman itu, lantas kita melepaskan diri dari persoalan perang dingin, maka - sadar atau tidak sadar - kita telah terjebak menjadi intelektual-intelektual yang corrupt bahkan absurd.
Pernyataan-pernyataan kontroversial dari Joesoef membuat kita lebih terbelalak untuk kembali menatap masa lampau dengan kaca-mata tersendiri. Belakangan ia gemar memakai istilah "reifikasi" yang dijabarkannya sebagai suatu produk yang diutak-atik oleh elit penguasa Orde Baru, yang kemudian dipaksakan agar menjadi kepercayaan rakyat, bahkan harus diterima sebagai kenyataan konkret yang berada di luar kesadaran mereka.
Penciptaan kabar-kabar burung di media massa, antara bulan Oktober dan November 1965, khususnya mengenai wanita-wanita Gerwani yang mengadakan pesta penyelenggaraan tarian cabul sambil mengelilingi mayat-mayat para jenderal yang terbunuh, adalah salah satu dari karya-cipta reifikasi yang dipropagandakan sepanjang sejarah kekuasaan Orde Baru. Kemudian bermuncullah berbagai jenis reifikasi lainnya, yang puncaknya adalah penciptaan ketakutan massa, dengan mengesahkan genosida ideologis dari Sabang sampai Merauke.
Adapun tentang dunia pers yang berjalan semasa Orde Baru, menurut Joesoef, tak terlepas dari peranan militerisme Amerika yang bersifat multidimensional, bahkan turut campur-tangan dalam memanipulasi opini serta penciptaan dokumen-dokumen palsu, yang di kemudian hari gemar dikunyah oleh pakar-pakar yang berkompeten di Indonesia. "Hal ini adalah dampak paling serius yang harus dipahami oleh jurnalis-jurnalis muda kita. Bahkan berani saya katakan, bahwa hampir semua pers kita di masa Orde Baru telah terkontaminasi oleh koran-koran kuning."
Dalam soal ini Joesoef mengakui kelihaian Soeharto dan kroni-kroninya, terutama dalam merebut opini publik. Karena permbredelan terhadap pers-pers berhaluan kiri justru lebih dulu dilakukan sebelum mereka mengesahkan pemberlakuan untuk menangkap orang-orang berhaluan kiri. Setelah membungkam kalangan jurnalis pasca September 1965, serta-merta dikeluarkan ultimatum untuk melarang suratkabar Harian Rakyat, Bintang Timur, Warta Bhakti, hingga Ekonomi Nasional. Setelah itu maka lahirlah opini publik yang serba "baru", yang berkutat dalam satu arah dan satu dimensi, hingga ketika seseorang disebarluaskan sebagai anggota PKI (atau terlibat G30S) maka tak ada peluang kesempatan untuk memberi sanggahan dan perlawanan.
Begitulah yang terjadi pada diri Joesoef, ketika ia bersama kawan-kawan jurnalis lainnya dituduh sebagai orang PKI, maka tak ada ruang baginya untuk menyatakan sanggahan. Padahal ia tumbuh dari keluarga besar PSI (Partai Sosialis Indonesia). "Saya senang sekali digolongkan sebagai orang kiri, meskipun saya belum pernah berada di kubu PKI. Dan sewaktu saya melek politik, tahu-tahu saya sudah tumbuh dalam lingkungan keluarga besar PSI."
Sewaktu memimpin Persatuan Wartawan Asia-Afrika (PWAA) Joesoef menyadari bahwa situasi-kondisi yang terjadi saat itu, mengharuskan organisasi PWAA terjun ke dunia politik. PWAA memang bukan sekadar organisasi profesional belaka, yang tugasnya hanya membina para wartawan atau meningkatkan mutu jurnalistik.
"Saat itu sepenuhnya kami sadar bahwa kami harus aktif membantu Pemerintah untuk merebut kebebasan, serta menegakkan kemerdekaan bagi negara-negara Asia-Afrika, yang pada kenyataannya, hingga memasuki tahun 1960 masih banyak negara-negara Afrika yang belum bebas dari penjajahan. Karena itu tugas berat yang harus dipikul PWAA telah membawa konsekuensi serius bahwa perjuangan PWAA identik dengan label kiri yang melawan imperialisme dan kolonialisme."
Dari tokoh-tokoh PSI, Joesoef mengakui keintelektualan Sjahrir, dan karenanya ia mengagumi Soebadio Sastrosatomo selaku murid Sjahrir. Soebadio dikenalnya sebagai tokoh yang teguh dan konsisten dalam mengidealisasi kesatuan Republik Indonesia. Ia banyak mengilhaminya dalam proses pencarian jati-diri sebagai individu, yang merupakan bagian integral dari kesatuan nasion Indonesia. Pada saat Soeharto masih sekuasa-kuasanya, Soebadio berpesan kepada Joesoef dan kawan-kawan agar menghentikan segala bentuk pelecehan kepada para perintis-pendiri republik kita.
"Hentikan pelecehan kepada Soekarno, hentikan pelecehan kepada Hatta dan Sjahrir. Sekarang kita harus bangkitkan strategi persatuan Soekarno-Hatta-Sjahrir untuk melawan fasisme Soeharto," begitulah tegas Soebadio.
Ketika Soebadio menyatakan kekagumannya pada Bung Karno, tidak setitik pun tersirat pada dirinya untuk mengecilkan Bung Hatta dan Bung Sjahrir. Hal itulah yang dirasakan oleh Joesoef, dan energi itulah yang diperjuangkannya hingga ia bertekad membangkitkan angkatan muda lewat buku-buku revolusioner yang diterbitkan oleh Hasta Mitra sejak tahun 1980-an.
Dalam tahun-tahun terakhir ini Joesoef Isak selaku Pemimpin Hasta Mitra berhasil meraih beberapa penghargaan internasional, antara lain Jeri Laber Award, Wertheim Award, sebagai penerbit independen terbaik.
Read More......