Diawali dari Keteladanan Soekarno
Oleh: Hafis Azhari
Pada dasarnya setiap manusia hidup adalah terpimpin, yang kemudian terus berkembang untuk bersiap-siap menjadi pemimpin. Sejak lahir manusia diasuh, dibina, diberi pelajaran dan pengetahuan tentang hidup, tentang bagaimana menjalai proses kehidupan yang baik. Setiap masukan yang diberikan dalam pikiran dan benaknya, selayaknya adalah pelajaran tentang bagaimana ia menghadaipi dirinya, sesamanya, lingkungan dan dunianya, yang kemudian ia bertanggung jawab untuk memberikan pelajaran kepada sesamanya pula.
Manusia yang terlahir lebih dulu, selayaknya bertanggungjawab untuk mendidik yang terlahir kemudian, yang tua bagi yang muda, dan singkatnya yang berpengetahuan kepada yang belum (tak) berpengetahuan.
Semua pendidikan itu berporos pada upaya-upaya untuk mencari jatidirinya sebagai manusia. Suatu upaya hidup yang berkemanusiaan dan bermoral. Supaya manusia dapat hidup secara lebih manusiawi. Karena itulah maka seorang pemimpin bertanggungjawab mengjarkan moralitas kepada orang-orang yang dipimpinya, yaitu kepada rakyatnya.
Dalam kaitan ini Joesoef Isak menegaskan:
Bung Karno adalah pemimpin dan guru saya sekaligus. Pidato-pidatonya sangat memukau sejak usia saya belasan tahun. Berkat dialah masa muda saya begitu bergairah dan bersemangat untuk berjuang melawan penjajahan. Dan sebagai anak remaja pada mulanya saya hanya ikut-ikutan berjuang, yang kemudian bung Karno pun tak bosan-bosan mengajari orang-orang seusia kami mengenai makna perjuangan.
Semangat perjuangan itu terus tertanam dalam dirinya. Di usia belasan tahun ia telah beberapa kali bergabung dalam dunia pergerakan, hingga ketika pendudukan Jepang (1942 -1945) ia berusaha melawan dengan hanya bersenjatakan ketapel dan bambu runcing.
Rumah kami persis di sebelah tahanan sekutu (kini Gedung Kebangkitan Nasional). Karena itu keluarga saya selalu mengalami pengejaran oleh serdadu-serdadu NICA, Jepang, hingga terus menerus mengungsi dari satu tempat ke tempat lain.
Pidato-pidato Bung Karno yang disiarkan melalui gelombang-gelombang radio di seluruh penjuru negeri, semakin mengobarkan semangat dan bara api perjuanganya. Sebagai anak muda Joesoef bersikeras mengisi masa-masa mudanya dengan sesuatu yang bermakna bagi perjuangan. Baginya perjuangan tidaklah sebatas berperang atau bertempur mengangkat senjata. Setiap saat dalam fitrah kehidupan manusia haruslah diisi dengan perjuangan, karena hidup itu sendiri adalah perjuangan. Ia berusaha memanifestasikan makna perjuangan itu dalam bentuk karya nyata, perbuatan, yang bukan bersenjatakan meriam ataupun bedil tetapi dengan pena.
Banten Tourism :: Pariwisata Banten ::
Senin, 17 November 2008
Pemikiran Joesoef Isak (II)
Label:
banten,
bung karno,
cilegon,
hafis,
hafis azhari,
hasta mitra,
hastamitra,
indonesia,
k2psi,
muhamad thorik,
soekarno,
thorik
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar