Disunting oleh: Muhamad Thorik
Bagi Bung Karno jelas bahwa musuh-musuh utama yang dihadapi bangsa Indonesia bukanlah kawan-kawan sebangsa atau setanah air sendiri. Musuh utama tersebut adalah perjuangan keras serta ambisi-ambisi keserakahan dari unsur status quo neokolonialisme dan imperialisme yang tidak pernah mau mengalah apalagi menyerah.
Unsur nekolim itu dengan gencar memainkan segala siasat dan tipu muslihat untuk memecah-belah para pejuang kita, terutama juga persaudaraan di kalangan intelektual RI. Bagi mereka persatuan-kesatuan banga berkembang akan mengancam peranan mereka dalam melancarkan operasi-operasinya di bidang ekonomi, demi kemakmuran mereka serta klik kepentingan ekonomi bagi suatu nasion tertentu.
Sadar tak sadar, para intelektual kita sungguh telah tersusupi oleh usaha-usaha dari kepanjangan tangan politik divide et impera tersebut. Selama puluhan tahun mereka direcoki oleh perdebatan-perdebatan sengit tak berguna serta memakan waktu dan energi yang serba mubasir dan sia-sia.
Gejala negatif yang mencemaskan pada kaum intelektual kita, adalah bahwa mereka menelan mentah-mentah dan memamah-biak pendapat para pakar asing yang dijadikan rujukan, dan akhirnya mengkerangkeng daya kemandirian berpikir mereka sendiri.
Di antara Soekarno-Hatta-Syahrir dan Soebadio, Amir Syarifudin, Agus Salim, Moh. Natsir, Sudirman, Tan Malaka, Moh. Roem dan lain-lain. Adalah para founding father yang mempunyai bakat, kemampuan dan fitrahnya masing-masing. Mereka memang berbeda, tetapi persatuan dalam perbedaan yang saling mengisi dan melengkapi itulah yang menjadi potensi dan asset nasional kita yang sangat berharga, suatu modal besar untuk membangun dan menempuh masa depan Indonesia yang lebih baik.
Banten Tourism :: Pariwisata Banten ::
Selasa, 18 November 2008
Mencermati Founding Fathers RI
Label:
banten,
bung karno,
cilegon,
hafis,
hafis azhari,
hasta mitra,
hastamitra,
indonesia,
k2psi,
muhamad thorik,
soekarno,
thorik
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar