Wawancara dengan Bung Hafis Azhari
Oleh Laura Irawaty
(Sekjen Gema Nusa Propinsi Banten)
Beberapa waktu lalu saya bersama Astuti dari Majalah Tiras (lokal) berhasil mewawancarai Hafis Azhari di kediamannya di Kampung Jerang Hilir pedalaman Kota Cilegon, khususnya mengenai penerbitan novel "Petunjuk dari Lubang Buaya (PDLB)" di media intenet. Berikut ini hasil wawancara kami, setelah mengedit beberapa bagian yang tak mungkin dimuat sepenuhnya, tapi kami berupaya untuk tidak mengurangi hal-hal substantif yang harus diungkap di sini. Selamat membaca.
Laura : Sebetulnya bagaimana asal-muasalnya hingga novel Bung bisa beredar luas dan dibaca banyak orang di internet itu? Apakah betul bahwa hal itu di luar pengetahuan Bung Hafis sendiri?
Hafis : Ah, siapa bilang? Saya tahu kok. Waktu Bung Thorik (Muhammad Thorik, ed) bolak-balik ke rumah saya setelah membaca naskah itu, lantas menawarkan untuk membuatkan blog khusus hingga novel itu terpublikasi, semuanya dengan seizin saya, meski ada bagian-bagian yang belum termuat, dan masih berproses hingga saat ini.
Laura : Jadi Bung sendiri yang menahan sebagian naskah itu hingga belum sepenuhnya termuat?
Hafis : Iya betul.
Astuti : Bagaimana ceritanya hingga Pak Hafis menulis novel PDLB itu? Apakah betul rumor yang beredar selama ini bahwa naskah itu adalah sejarah hidup Pak Hafis sendiri?
Hafis : Ah, tidak juga, meski ada bagian-bagian penting yang saya ambil dari pengalaman hidup saya. Tapi seumumnya adalah bagian dari pengalaman hidup bangsa ini, termasuk pengalaman kalian juga, hehe.
Laura : Bagian mana yang bukan pengalaman hidup Bung?
Hafis : Saya kan kuliah di UIN Jakarta pada jurusan Teologi dan Filsafat, tapi pada novel itu saya bikin seakan-akan saya gagal masuk Sekolah Tinggai Filsafat Driyarkara. Juga tentang penyerbuan-penyerbu an kantor itu. Saya hanya menghimpun dari kesaksian orang-orang yang terlibat, khususnya para korban, termasuk informasi dari koran-koran yang beredar saat itu. Tapi intinya saya tidak hendak mengungkap kebenaran secara mutlak, tapi saya ingin menyampaikan pesan-pesan kebenaran yang merupakan substansi dari ilmu sejarah itu sendiri.
Astuti : Tapi yang disampaikan dalam novel PDLB banyak yang sesuai dengan fakta di lapangan, misalnya kasus Trisakti, penyerbuan kantor PDI-P, kasus LBH Bandung, Romo Sandyawan, Pius Lustrilanang, Wiji Thukul, bahkan kasus-kasus Kedungombo hingga pembunuhan Munir. Apakah Bung sempat mengadakan kros-cek yang intensif dengan tokoh-tokoh yang terlibat di lapangan?
Hafis : Silakan saja di-kroscek oleh pihak-pihak akademisi atau pihak-pihak yang berkompeten, hingga terjadi harmoni dan kesenyawaan yang menyeluruh, meskipun suatu novel tetap pekerjaan tangan dan pikiran yang tidak (belum) sempurna betul. Semua kita adalah bagian dari proses sekaligus terlibat dalam proses. Dan sejerah itu sendiri adalah kebenaran yang terus berproses, mungkin hingga kiamat.
Laura : Maksud Bung?
Hafis : Ya sejarah yang dituliskan itu kan hasil kreasi atau konstruksi memori dan pikiran manusia. Orang yang menggarap dengan kekuatan rasio ilmiah pun, tetap masih mungkin adanya kekurangan dan kekeliruan. Kita manusia hanya bisa berusaha sekuat mungkin.
Astuti : Kalau konstruksi buatan manusia seperti maksud Bapak, berarti suatu tulisan itu boleh jadi hasil rekaan atau kebohongan?
Hafis : Bukankah karya sastra itu identik dengan hasil karangan, termasuk karya-karya Pram atau para peraih nobel sekalipun. Sekuat apapun didasari sejarah, masih tetap tergantung dari motivasi pengarangnya. Tapi intinya, kalaupun manusia terpaksa membuat kebohongan, masalahnya kebohongan itu diciptakan untuk menyelamatkan dan mendamaikan manusia, atau justru untuk merusak, membunuh dan memfitnah manusia? Menurut saya, dalam iklim negara yang tidak adil, kesantunan atau kejujuran mutlak itu tidak selamanya baik.
Astuti : Kabarnya Pak Hafis juga pernah mempublikasikan sejarah hidup korban-korban 65 di internet? Apakah Bapak tidak mempertimbangkan sisi komersilnya?
Hafis : Saya pernah dibantu oleh sebuah lembaga kebudayaan di Jakarta untuk mengadakan penelitian di Banten, tentang korban-korban Orde Baru. Meskipun riset-riset tentang para korban Orde Baru telah saya lakukan sejak tahun 1995-an. Untuk program itu saya pernah dipertemukan dengan Hersri Setiawan, Goenawan Mohamad, Hermawan Sulistyo, Asvi Marwan Adam, bahkan dengan anak-anak jenderal korban 1965 lalu. Mereka menamakan program itu dengan "Historical Memories di Indonesia".
Laura : Bagaimana dengan Joesoef Isak yang biografinya Bung publikasikan juga?
Hafis : Oh, biografi Joesoef Isak itu kan masih draft. Kalau itu, tak ada hubungannya dengan penelitian saya di Banten. Joesoef Isak tinggal di wilayah Duren Tiga Jakarta. Adapun penulisan biografi itu murni atas inisiatif saya dan teman-teman K2PSI (Kelompok Kerja Perumusan Sejarah Indonesia, ed).
Astuti : Banyak pembaca yang mengungkap adanya kekuatan pikiran, atau kekuatan bahasa dari Pak Hafis dalam penulisan biografi Joesoef itu, seakan-akan naskah itu sudah matang betul. Apakah sebelumnya ada lembaga khusus yang membiayai program itu?
Hafis : Wah, sampai saat ini belum ada sama sekali. Sampai sekarang naskah itu belum selesai kan? Padahal sudah dibaca ribuan orang. Suatu hari saya pernah dipertemukan dengan seseorang yang datang dari Belanda, yakni seorang mahasiswa yang kuliah di luar negeri sejak tahun-tahun 1960-an, kemudian di bawah rejim Soeharto ia tak bisa pulang ke Indonesia. Beliau membantu sekedarnya atasnama pribadi, bukan lembaga, dan kami mengucap banyak terimakasih. Tapi mengenai naskah biografi itu, di kemudian hari kami sadar betul bahwa program itu adalah program besar yang membutuhkan waktu, energi dan biaya tinggi...
Laura : Apakah Bung pernah menghubungi lembaga penyandang dana melalui internet?
Hafis : Dulu pernah ada yang membuatkan pengumuman melalui internet. Tapi saya sendiri jarang buka internet, bahkan nomor password saya sering dipakai teman-teman pengurus K2PSI. Saya cuma mendatangi warnet (warung internet, ed) kalau ada tulisan yang perlu disampaikan ke publik. Di kampung ini belum ada jaringan internet, jadi saya harus pergi ke pusat Kota Cilegon. Kalau perlu diadakan jaringan khusus, mungkin biayanya tinggi, dan kami tak sanggup membayar. Karena itu mohon maaf kalau saya tak pernah komunikasi lewat internet. Tapi kalau nomor handphone, selalu hidup dan tak pernah saya matikan.
Astuti : Kira-kira pesan apa yang ingin Bapak sampaikan melalui biografi Joesoef Isak itu?
Hafis : Pada prinsipnya tak jauh beda dengan novel PDLB, juga dengan tulisan-tulisan saya yang lainnya. Saya ingin membedah otak-otak manusia Indonesia agar berpikir, berpandangan, bertutur-kata, bahkan bersikap sebagaimana adanya manusia Indonesia. Karena Orde Baru telah menculik indentitas dan jati-diri kita selama ini, hingga kebanyakan kita tumbuh secara menyimpang dan tidak manusiawi. Dan saya sudah menyiapkan beberapa novel lagi tentang peristiwa 1965 itu. Saat ini dua novel saya sudah ada di tangan sebuah penerbit di Jakarta.
Astuti : Bagaimana kalau ada penerbit di Banten ini yang meminta tulisan-tulisan Bapak? Dan bagaimana Bapak sendiri memandang tentang dunia penerbitan akhir-akhir ini?
Hafis : Dunia penerbitan baik-baik saja, meskipun kita perlu punya pengertian tersendiri tentang industri penerbitan. Di Jaman Orde Baru, dunia penerbitan itu termasuk bisnis kapitalisme yang bergerak secara sepihak. Jadi bagian dari konstruksi buatan orang-orang yang mendukung rejim militer juga, bahkan masih diwariskan hingga hari ini. Siapa berhak menerbitkan dan diterbitkan, dan apa motoivasi si penulis hingga mengajukan sesuatu untuk diterbitkan?
Laura : Lantas, siapa yang berani menerbitkan novel PDLB, atau karya-karya Bung yang lainnya?
Hafis : Pada waktunya akan tampil juga ke permukaan. Segala sesuatu ada musimnya tersendiri. Tapi oke, sekarang saya ingin sampaikan ke publik bahwa naskah biografi Joesoef Isak yang pernah saya beri judul "Wartawan Pembela Bung Karno" pernah ditolak beberapa waktu lalu oleh Penerbit Gramedia (P.T. Gramedia Pustaka Utama, ed) yang ditandatangani oleh seorang manager bernama Siti Gretiani. Dan surat penolakannya masih ada di tangan saya sekarang.
Astuti : Juga naskah PDLB?
Hafis : Kalau PDLB selengkapnya sudah ada di tangan penerbit di Jakarta. Beberapa tahun lalu draft naskah PDLB pernah dibaca oleh Pramoedya (sebelum wafat), sampai-sampai ia mempertemukan saya dengan penerbit di Utan Kayu. Tapi sekarang naskah lengkapnya sudah ada yang pegang.
Laura : Kabarnya teman-teman Joesoef Isak yang di luar negeri ikut menghadiri acara "Liber Amicorum Joesoef Isak" di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Apakah Bung juga menyumbangkan tulisan seperti yang pernah Bung sumbangkan untuk Liber Amicorum Bung Karno dulu?
Hafis : Saya diminta menyumbang tulisan oleh Bung Bonnie Triyana selaku penyelenggara. Dalam beberapa hari langsung saya kirimkan tulisan itu. Saya senang sekali mendapat kepercayaan untuk menyumbang tulisan tentang Joesoef Isak itu.
Astuti : Saat ini program apa yang sedang Bapak jalankan bersama K2PSI?
Hafis : Saat ini kadang-kadang kami harus menyelesaikan satu sampai tiga program kegiatan. Namun diperlukan adanya prioritas terpenting untuk diselesaikan. Karena sering terbentur soal dana, bila ada kegiatan ABC terpaksa kami dahulukan program yang ada dananya, biarpun di posisi C atau B. Inilah yang menjadi kendala kami, sering terbentur soal skala prioritas. Padahal di jaman kebangkitan Indonesia sejak 1908, 1928 hingga 1945, persoalan logistik dalam perjuangan itu adalah persoalan yang harus diperhitungkan secara serius.
Laura : Sekarang apa visi Bung Hafis dan kawan-kawan untuk gerakan-gerakan K2PSI ke depan?
Hafis : K2PSI akan terus melangkah maju ke depan. Pada prinsipnya organisasi ini bergerak di bidang perumusan sejarah Indonesia. Selama ini kami baru sanggup mengadakan studi ilmiah dan penelitian tentang sejarah Indonesia, lantas mempublikasikan melalui media massa, radio hingga internet. Dengan segala keterbatasan dana dan biaya, kami akan terus melangkah maju, bahkan tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat kami akan menggarap sekenario dan film tentang sejarah hidup para sahabat Bung Karno, para mantan tapol dan refuji yang ada di luar negeri.
Astuti : Kira-kira apa pesan utama yang ingin Bapak sampaikan dalam karya-karya Bapak selama ini?
Hafis : Kami ingin mengabarkan pada segenap rakyat Indonesia bahwa perjalanan hidup kita selama ini telah keliru dan menyimpang. Kita hidup di tanah air Indonesia, tapi kita telah dibutakan untuk memahami identitas keindonesiaan kita. Selama ini kita telah berbuat, bergerak bahkan berjuang secara menyimpang dan tidak manusiawi. Dalam bahasa yang sederhana, bangsa ini mestinya cerdas dan makmur, karena bumi Indonesia telah dipenuhi syarat-syarat untuk menjadi cerdas dan makmur, tapi kenapa bangsa ini justru bekembang ke arah kemerosotan dan pendangkalan? Semua itu tidak diajarakan oleh pendahulu dan founding fathers kita. Lantas ada pola hidup dan gerakan apa selama tahun ini, hingga nasib bangsa bisa menjadi seperti ini? Siapa yang bertanggungjawab dalam membuat rencana dan agenda, hingga hari ini bisa menjadi lebih buruk dari hari kemarin? Lantas apakah hari esok akan kita biarkan juga menjadi lebih buruk dari hari ini? Kami ingin menegaskan kata "cukup", mulai sekarang kita katakan "cukup", dan kita kembali meneladani dan meneruskan jejak-langkah para pendahulu kita...
Laura : Itukah yang sering Bung maksudkan dengan peradaban baru Indonesia?
Hafis : Kalau saya sering mengungkap peradaban baru Indonesia di radio atau forum-forum diskusi, sebetulnya hanya soal kembali saja kepada jejak-langkah founding fathers kita. Kembali ke asas kita sebagai manusia Indonesia yang medeka dan berdaulat, kembali meneladani para pendahulu kita. Jangan sampai kita membenci dan memusuhi orang yang benar yang selama ini dipropagandakan Orde Baru, lantas kita dipaksa-paksa untuk mencintai orang yang salah. Karena itu peradaban yang tidak normal namanya. Sekarang kita jangan mudah terpengaruh oleh hasutan dan fitnah. Hormatilah orang yang layak mendapat kehormatan. Awas, jangan sampai terulang lagi, kita menjadi salah alamat dalam menghormati orang. Kita harus bedakan siapa itu Musa atau Firaun, siapa itu Alexander Agung atau Jenghis Khan, siapa itu Bung Karno atau Soeharto, siapa itu pembebas atau penjajah dan agresor, siapa itu pembangkit rakyat atau pembelenggu rakyat, siapa itu penegak keadilan atau perampas hak-hak rakyat? Kita harus berani mengatakan "cukup", dan tidak boleh lagi adanya pertumpahan darah di negeri yang sedang damai ini. Awas, jangan sampai terjadi lagi adanya pertempuran yang tidak seimbang di negeri ini, dan jangan biarkan terulang lagi adanya monumen kebohongan di negeri yang kita cinta ini...!
Banten, 14 Desember 2008
Banten Tourism :: Pariwisata Banten ::
Sabtu, 13 Desember 2008
Wawancara dengan Bung Hafis Azhari
Label:
banten,
cilegon,
hafis azhari,
hasta mitra,
Joesoef Isak,
muhamad thorik
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar